TEMANGGUNG, Tabayuna.com
– Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung resmi memulai Asesmen Lapangan (AL) Akreditasi Program Studi S1 Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, pada Jumat (17/7/2026) di ruang rapat BPP INISNU Temanggung. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 17–18 Juli 2026, menjadi momentum penting bagi institusi untuk menunjukkan komitmen dalam membangun budaya mutu pendidikan tinggi secara berkelanjutan.


Pembukaan asesmen dihadiri oleh jajaran Ketua Dewan Pengurus Badan Pelaksana Penyelenggara (BPP) INISNU Temanggung, pimpinan institut, sivitas akademika, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, serta para pemangku kepentingan. Tim asesor dari Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK) yang melakukan asesmen adalah Dr. H. Akhmad Rifa'i, M.Phil., dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan Dr. Dyah Nawangsari, M.Ag., dosen Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq.

 

Dalam sambutannya, Rektor INISNU Temanggung, Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., menyampaikan bahwa asesmen lapangan bukan sekadar proses penilaian administratif, melainkan bagian dari ikhtiar institusi untuk terus meningkatkan kualitas tridarma perguruan tinggi. Ia memaparkan perkembangan INISNU Temanggung yang kini memiliki tiga unit pengelola program studi (UPPS) dengan delapan program studi, termasuk dua program studi berakreditasi Unggul, serta penguatan internasionalisasi melalui berbagai kerja sama akademik dengan perguruan tinggi dan lembaga pendidikan di Malaysia, Thailand, Taiwan, hingga Australia.

 

Ketua Dewan Pengurus BPP INISNU Temanggung, Drs. H. Nur Makhsun, M.S.I., menegaskan komitmen badan penyelenggara dalam mendukung peningkatan mutu akademik melalui penguatan sumber daya manusia, sarana prasarana, jejaring nasional dan internasional, serta pengembangan kelembagaan. Berbagai capaian tersebut menjadi bagian dari dukungan BPP terhadap peningkatan kualitas seluruh program studi di lingkungan INISNU Temanggung.

 

Mewakili tim asesor, Dr. H. Akhmad Rifa'i, M.Phil. menjelaskan bahwa asesmen lapangan tidak hanya berorientasi pada dokumen, tetapi lebih jauh melihat kesungguhan perguruan tinggi dalam mengelola mutu secara berkelanjutan.

 

Ia mengungkapkan bahwa LAMDIK saat ini telah melakukan perubahan instrumen akreditasi dari versi 2.0 menuju 3.0. Namun demikian, menurutnya, perguruan tinggi tidak perlu terfokus pada perubahan instrumen semata.

 

"Ada perubahan instrumen dari 2.0 ke 3.0 di LAMDIK, tetapi jangan terlalu dipikirkan. Yang paling penting adalah kesungguhan perguruan tinggi dalam mengelola mutu," ujarnya.

 

Menurutnya, dokumen Laporan Evaluasi Diri (LED) merupakan cerminan kemampuan institusi melakukan evaluasi secara objektif terhadap kondisi yang sebenarnya.

 

"Namanya LED itu harus mengevaluasi diri sendiri secara objektif," tegasnya.

 

Ia menambahkan, tujuan utama akreditasi bukan sekadar memperoleh nilai terbaik, melainkan membangun kepercayaan masyarakat terhadap mutu perguruan tinggi. "Akreditasi itu membangun kepercayaan masyarakat, mahasiswa, dan para stakeholders," katanya.

 

Rifa'i juga mengapresiasi perkembangan pendidikan tinggi di Temanggung. Menurutnya, masyarakat kini memiliki pilihan untuk memperoleh pendidikan berkualitas tanpa harus pergi ke kota besar.

 

"Tidak harus ke Jogja, tetapi di Temanggung sudah ada perguruan tinggi yang berkembang. Namun kalau di Jogja sudah lebih maju, itu harus dikejar, harus terus mengikuti perkembangan, jangan sampai lengah," pesannya.

 

Sementara itu, Asesor II, Dr. Dyah Nawangsari, M.Ag., mengawali arahannya dengan mencairkan suasana. Ia mengakui bahwa proses asesmen sering kali membuat perguruan tinggi merasa tegang. "Menjadi asesi itu memang panas dingin," ujarnya disambut senyum peserta.

 

Menurutnya, tugas pertama asesor bukan hanya melakukan penilaian, tetapi juga mempererat silaturahmi antarlembaga.

 

"Tugas kami pertama adalah silaturahmi, menambah tali persaudaraan," katanya.

 

Dyah mengaku baru pertama kali berkunjung ke Kabupaten Temanggung dan berharap asesmen berlangsung dalam suasana yang nyaman dan terbuka.

 

Ia menegaskan bahwa kedatangan asesor bertujuan memastikan kesesuaian antara dokumen dengan kondisi nyata di lapangan. "Kami di sini ingin membuktikan kepada LAMDIK, bukan seperti di media sosial yang memakai filter," ungkapnya.

 

Karena itu, ia meminta seluruh sivitas akademika menjalani asesmen dengan santai tanpa rasa takut. "Kita bawa santai saja, tetap fresh, tidak perlu tegang. Yang penting ketika kami bertanya, dijawab apa adanya sesuai kondisi yang ada," pesannya.

 

Asesmen lapangan ini menjadi tahapan penting dalam proses reakreditasi Program Studi S1 Pendidikan Agama Islam INISNU Temanggung. Selain melakukan verifikasi dokumen, tim asesor juga akan mengonfirmasi implementasi sistem penjaminan mutu, pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, tata kelola program studi, serta melakukan wawancara dengan pimpinan, dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, alumni, dan para pengguna lulusan.

 

Melalui asesmen lapangan tersebut, INISNU Temanggung berharap dapat semakin memperkuat budaya mutu, meningkatkan kepercayaan publik, serta memperkokoh posisi Program Studi S1 Pendidikan Agama Islam sebagai program studi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan perkembangan pendidikan tinggi di era yang terus berubah. (*)


SALATIGA, Tabayuna.com
– Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah KH. Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin) menyatakan niatnya untuk maju dalam kontestasi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar NU mendatang. Pernyataan tersebut disampaikan secara langsung di hadapan para Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Jawa Tengah dalam agenda silaturrahim di Salatiga, Rabu (15/7/2026) malam.

Forum yang dihadiri perwakilan PCNU se-Jawa Tengah itu semula menjadi ruang diskusi mengenai dinamika organisasi dan arah perjalanan NU menjelang Muktamar. Namun dalam kesempatan tersebut, Gus Rozin juga menyampaikan keputusan pribadinya untuk ikut berikhtiar dalam kontestasi kepemimpinan PBNU.

Dalam penyampaiannya, Gus Rozin menegaskan bahwa langkah tersebut bukan didorong oleh keinginan untuk memperuncing persaingan antartokoh. Menurutnya, yang lebih penting adalah mencari jalan keluar atas berbagai persoalan yang dihadapi organisasi serta menyiapkan masa depan NU yang lebih baik.

“Kita tidak usah mengulik tokoh-tokoh yang berkontestasi. Kita mencoba mengurai masalah yang ada,” ujar Gus Rozin.

Ia mengungkapkan bahwa keputusan untuk maju tidak diambil secara tiba-tiba. Sebelum menyampaikan niat tersebut, ia mengaku telah melakukan perenungan dan berdiskusi dengan sejumlah sahabat serta pengurus NU di berbagai daerah.

“Saya sempat berpikir lama dan akhirnya sekitar dua hari lalu, saya bersama teman-teman dan beberapa Ketua PCNU yang menghubungi saya, maka saya berikhtiar untuk berkontestasi pada Muktamar tahun ini,” ungkapnya.

Gus Rozin menyebut forum silaturrahim bersama para Ketua PCNU se-Jawa Tengah sebagai tempat yang tepat untuk menyampaikan niat tersebut secara terbuka. Selain sebagai bentuk ikhbar, ia juga memanfaatkan kesempatan itu untuk meminta doa dan dukungan dari para pengurus cabang yang selama ini menjadi bagian penting dari perjalanan pengabdiannya di NU.

“Ini merupakan ikhbar sekaligus meminta doa kepada para Ketua PCNU se-Jawa Tengah. Saya melakukan ini karena saya berangkat dari Jawa Tengah, dan saya merasa bahwa para Ketua PCNU ini bukan orang lain,” ujarnya.

Meski menyatakan maju dalam kontestasi, Gus Rozin menekankan bahwa orientasi utamanya adalah memperkuat persatuan organisasi dan menghadirkan gagasan untuk masa depan NU. Dalam forum tersebut, ia kembali menyampaikan visinya mengenai NU yang berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat bagi kemaslahatan umat, bangsa, dan kemanusiaan.

“Kita ingin NU terwujud sebagai perkumpulan sosial keagamaan Islam yang berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat untuk kemaslahatan dan kesejahteraan Indonesia dan semesta,” katanya.

Pengasuh Pesantren Maslakul Huda-Pati ini juga mengajak seluruh jajaran PCNU se-Jawa Tengah untuk menjadikan Muktamar sebagai momentum konsolidasi dan penguatan organisasi, bukan arena yang memperlebar perbedaan. “Kita ingin NU terwujud sebagai perkumpulan sosial keagamaan Islam yang berdaulat, bermartabat dan bermanfaat untuk kemaslahatan dan kesejahteraan Indonesia dan semesta,” kata Gus Rozin.

Gagasan tersebut mendapat perhatian dari peserta yang hadir. Sejumlah pengurus cabang menilai pentingnya membangun ruang komunikasi yang lebih intensif antarlembaga dan antarkader agar proses menuju Muktamar dapat berjalan dengan baik serta menghasilkan keputusan yang membawa manfaat bagi jam’iyah dan jamaah.

Forum silaturahim itu juga menjadi wadah penyelarasan pandangan mengenai visi Nahdlatul Ulama ke depan. Para peserta sepakat bahwa tantangan yang dihadapi organisasi semakin kompleks, sehingga membutuhkan sosok kepemimpinan yang mampu menjaga marwah organisasi, sekaligus memperkuat kontribusi NU bagi masyarakat.

Menjelang berakhirnya acara, Gus Rozin kembali menegaskan pentingnya menjaga suasana yang kondusif di seluruh tingkatan organisasi. Ia berharap seluruh warga NU dapat menempatkan kepentingan jam’iyah di atas kepentingan kelompok maupun pribadi.

“Yang harus kita menangkan adalah masa depan NU yang berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat. Muktamar harus menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan dan melanjutkan khidmah kepada umat, bangsa, dan kemanusiaan,” tutur Rektor Institut Pesantren Mathali'ul Falah (IPMAFA) Pati.

Silaturahim PCNU se-Jawa Tengah tersebut ditutup dengan doa bersama dan komitmen untuk terus menjaga komunikasi serta memperkuat konsolidasi organisasi dalam menyongsong Muktamar yang damai, bermartabat, dan membawa kemanfaatan bagi seluruh warga Nahdlatul Ulama.


TEMANGGUNG, Tabayuna.com
– Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung resmi membuka kegiatan Pendidikan Keaswajaan bagi 130 mahasiswa semester VII. Kegiatan strategis yang diinisiasi oleh Pusat Aswaja An-Nahdliyah INISNU Temanggung (PUSWAN) ini dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, mulai Selasa hingga Kamis, 14–16 Juli 2026, bertempat di Aula INISNU Temanggung.


Dalam sambutan pembukaannya, Rektor INISNU Temanggung, Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., menegaskan bahwa nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah bukan sekadar pelengkap, melainkan fondasi utama institusi. “Aswaja An-Nahdliyah telah terintegrasi secara utuh ke dalam Visi dan Misi INISNU maupun di tingkat Program Studi (Prodi). Hal ini juga menjadi rekomendasi penting saat proses akreditasi, sekaligus menjawab langsung apa yang menjadi kebutuhan riil di tengah masyarakat,” kata Rektor saat membuka acara di lantai 3 INISNU Temanggung, Selasa (14/7/2026).


Rektor menjelaskan, jika dilihat dari dimensi capaian pembelajaran yang meliputi aspek knowledge (pengetahuan), skills (keterampilan), dan attitude (sikap) maka setiap mahasiswa INISNU mutlak wajib menguasai empat aspek utama keaswajaan.


Pertama adalah Akidah atau keyakinan, di mana mahasiswa harus kokoh memegang prinsip Islam ala Ahlussunnah Waljamaah sebagai fondasi keimanan. Kedua adalah Fikrah atau pola pikir, yang memosisikan Aswaja sebagai landasan dalam merespons berbagai dinamika sosial dan keilmuan secara tawasut (moderat) dan tawazun (seimbang). Ketiga adalah Amaliah atau praktik ibadah, sebagai wujud tindakan nyata sehari-hari yang mencerminkan tradisi luhur NU. Keempat adalah Harakah atau gerakan, yang menjadi manifestasi dalam bentuk gerakan sosial-dakwah yang santun, inklusif, dan membawa kemaslahatan.


Agenda intensif ini dirancang untuk membentuk karakter mahasiswa yang berilmu, berakhlak, dan berkompeten. Peserta yang menyelesaikan seluruh rangkaian program juga akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat langsung bagi kehidupan, bimbingan dari narasumber kompeten, serta Sertifikat Keaswajaan resmi sebagai bukti partisipasi aktif.

Sebelum program utama dibuka untuk mahasiswa, Tim PUSWAN terlebih dahulu menggelar koordinasi internal pada Senin, 13 Juli 2026 di Ruang Rapat Lantai 2 guna menyamakan persepsi dan memastikan kesiapan para mentor agar mampu menjalankan tugas sesuai tujuan institusi.


Rangkaian materi edukasi pun dikemas secara padat dan sistematis. Pada hari pertama, Selasa, 14 Juli 2026, kegiatan diawali dengan pembukaan resmi oleh Rektor yang dilanjutkan dengan sesi Pendampingan Baca Tulis Al-Qur'an (BTQ) bersama Sholahidin Al Ayubi. Sesi pagi ini berfokus pada pengenalan huruf hijaiyah, makharijul huruf, tajwid dasar, hingga tahsin bacaan demi meningkatkan literasi Al-Qur'an mahasiswa. Memasuki siang hari, KH. Abdul Muchid, M.Ag. memandu Pendampingan Hadoroh, Tahlil, dan Yasinan. Di sini, mahasiswa dibekali tata cara, bacaan doa, hingga praktik langsung memimpin tahlil sebagai upaya memelihara tradisi amaliah Ahlussunnah wal Jama'ah.


Hari kedua, Rabu, 15 Juli 2026, diisi dengan pendalaman materi teoretis dan retorika. Pada sesi pagi, KH. Dzia’ullamik memimpin Kajian Turats atau Kitab Kuning yang mengupas tuntas Akidah Ahlussunnah wal Jama'ah, sejarah NU, serta internalisasi nilai-nilai keutamaan seperti tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i'tidal. Memasuki sesi siang, giliran Abdul Rofiq, S.H. yang memberikan Pelatihan Dai Muda Aswaja. Mahasiswa dilatih menguasai teknik public speaking, penyusunan materi dakwah, serta retorika yang mengedepankan moderasi beragama untuk membentuk kader dai yang komunikatif.


Memasuki hari terakhir, Kamis, 16 Juli 2026, pelatihan difokuskan pada aspek praktis kemasyarakatan. Sesi pagi diawali oleh Dr. KH. Muhammad Syakur, M.H. yang mengawal Praktik Khotbah, Kultum, atau Ceramah Singkat, yang ditutup dengan sesi sakral Ijazahan Yasin Fadhilah. 


Sesi siang dilanjutkan dengan agenda yang sangat krusial di tengah masyarakat, yaitu Praktik Pemulasara Jenazah Laki-laki dan Perempuan serta Talqin Mayit yang dipandu langsung oleh Tim LDNU. Rangkaian program ini ditutup pada sore hari dengan Monitoring dan Evaluasi Kompetensi Keaswajaan melalui Uji Keaswajaan, baik berupa tes tertulis maupun nontes saat praktik, yang dipimpin oleh KH. Nashih Muhammad, M.H.


Selain itu, kata Rektor, mahasiswa juga akan mendapatkan bimbingan dan syahadah Yasin Fadlilah dari Dr. KH. Muhammad Syakur, M.H., (Wakil Katib PWNU Jawa Tengah dan Direktur Program Pascasarjana INISNU Temanggung).


Melalui evaluasi kompetensi yang ketat tersebut, PUSWAN berharap capaian dan ketercapaian kompetensi keaswajaan mahasiswa dapat terukur secara objektif. Output dari kegiatan ini ditargetkan melahirkan laporan pembinaan yang komprehensif sekaligus mencetak lulusan yang siap menjadi benteng serta penggerak tradisi Islam Nusantara di lingkungan masyarakat luas. (*)


TEMANGGUNG, Tabayuna.com
— Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung sukses menyelenggarakan Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-32 pada Selasa, 7 Juli 2026 di Gedung Pemuda Temanggung. Momentum sakral ini tidak sekadar menjadi panggung seremoni kelulusan bagi 122 wisudawan, melainkan bertransformasi menjadi forum akuntabilitas publik yang komprehensif.

 

Di hadapan para tokoh penting Nahdlatul Ulama, koordinator Kopertais, serta jajaran pimpinan daerah, Rektor INISNU Temanggung, Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., menyampaikan pidato laporan kinerja akademik yang merefleksikan lompatan strategis institusi menuju panggung global (internasionalisasi) sekaligus memaparkan cetak biru perubahan struktural berskala besar.

 

Acara yang berlangsung khidmat tersebut dihadiri oleh Koordinator Kopertais Wilayah X Jawa Tengah Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag., Wakil Bupati Temanggung drg. Nadia Muna, Kapolres Temanggung AKBP. Zamrul Aini, S.H., S.I.K., M.H., M.B.A., Ketua BAZNAS Temanggung Drs. KH. Muhammad Manshur Asnawi, M.S.I., Sekretaris PCNU Temanggung H. Sukron Wahid, S.Pd.I, M.Ag., Ketua Dewan Pengurus BPP INISNU Temanggung Drs. KH. Nur Makshun, M.S.I., perwakilan Kemenag Temanggung, Kodim 0706/Temanggung, Pengadilan Agama Temanggung, Pengadilan Negeri Kelas 1B Temanggung, Kejaksaan Negeri Temanggung, Pimpinan Cabang BSI Kantor Cabang Temanggung, KBIHU Babussalam NU Temanggung, Direktur Akademi Keperawatan (Akper) Al Kautsar Temanggung, Ibu Tri Suraning Wulandari, S.Kep., Ners., M.Kep., Lembaga dan Badan Otonom NU, serta ratusan hadirin.

 

Kehadiran para petinggi lintas sektoral ini mempertegas posisi strategis INISNU sebagai salah satu episentrum pendidikan tinggi berbasis keagamaan dan kebangsaan di Jawa Tengah. Pada wisuda periode ini, INISNU meluluskan 122 wisudawan, yang terdiri atas 32 magister (Magister Pendidikan Agama Islam dan Magister Hukum Keluarga Islam) serta 90 sarjana.

 

Dalam laporan kinerjanya, Dr. Hamidulloh Ibda menegaskan bahwa INISNU Temanggung saat ini ditopang oleh 3 Unit Pengelola Program Studi (UPPS), yaitu Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK), Fakultas Syariah, Hukum, dan Ekonomi Islam (FSHEI), serta Program Pascasarjana. Institusi ini mengelola total 8 Program Studi (6 program sarjana dan 2 program magister) dengan status akreditasi yang sangat kompetitif secara nasional.

 

"Saat ini, institusi kita berdiri dengan fondasi mutu yang kokoh. Dari 8 program studi yang kita kelola, satu program studi telah berhasil meraih akreditasi tertinggi yakni predikat Unggul (S1 PGMI). Empat program studi meraih predikat Baik Sekali / B (S1 HKI, S1 PIAUD, S1 PAI, S1 MPI), dan tiga program studi berpredikat Baik (S2 PAI, S2 HKI, dan S1 ES)," papar Rektor dalam pidatonya.

 

Akselerasi mutu kelembagaan ini secara teoretis merujuk pada konsep manajemen mutu komprehensif yang diartikulasikan oleh Joseph M. Juran dalam buku monumentalnya, Juran on Leadership for Quality (1989). Rektor menekankan bahwa mutu pendidikan tinggi harus diukur dari kesesuaian pada tujuan dan kebutuhan nyata para pengguna (fitness for use). “Berpijak pada paradigma tersebut, keunggulan kelembagaan tidak semata dinilai dari kemegahan fisik, melainkan dari efektivitas tata kelola internal, kepuasan mahasiswa, serta kontribusi konkret kepada para pemangku kepentingan melalui penerapan prinsip Trilogy Quality: perencanaan mutu (quality planning), pengendalian mutu (quality control), dan peningkatan mutu secara konsisten (quality improvement),” kata Ibda.

 

Salah satu sorotan utama dalam laporan rektorat kali ini adalah masifnya internasionalisasi institusi. Mengembangkan konsep "Kampus Berdampak" yang menyelaraskan diri dengan arah kebijakan Diksainteks dan Kementerian Agama RI, INISNU membuktikan diri tidak lagi terjebak dalam sindrom lokalisme.

 

Sepanjang tahun akademik berjalan, kampus ini telah menginisiasi tiga forum ilmiah global papan atas yang melibatkan jejaring akademis lintas negara. Pertama, Seminar Internasional "The Transformation of Eco-Theology Education", diselenggarakan pada 19 Januari 2026, berkolaborasi secara strategis dengan Global Interfaith University, Amerika Serikat. Kedua, Seminar Internasional "War and The Global Economic Impact", terlaksana pada 12 Februari 2026, bermitra dengan Tezpur College, Assam, India, yang sekaligus menggerakkan kolaborasi taktis dengan 8 Perguruan Tinggi di Indonesia. Ketiga, Seminar Internasional "Peace Education and Religion", digelar pada 16 April 2026, bekerja sama dengan Hallym University, Korea Selatan.

 

Tidak berhenti pada tataran konseptual di ruang seminar, langkah ekspansif ini diwujudkan secara riil melalui program Pancadharma Internasional yang sukses dilaksanakan pada Agustus 2025. Kampus berhasil memberangkatkan sebanyak 157 peserta untuk melaksanakan integrasi kegiatan akademik meliputi Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), Kuliah Kerja Lapangan (KKL), Kuliah Kerja Nyata (KKN), studi banding (benchmarking), dan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di tiga negara Asia Tenggara sekaligus: Singapura, Malaysia, dan Thailand.

 

Hingga pertengahan tahun 2026, jaringan kemitraan aktif yang dimiliki oleh INISNU telah mencapai angka yang impresif, yaitu 16 kerja sama lokal, 41 MoU / 38 MoA berskala Nasional, serta 6 MoU / 9 MoA tingkat Internasional. Beberapa mitra strategis luar negeri yang terikat komitmen aktif antara lain UniSHAMS Malaysia, Ma'ahad Tahfiz An-Nur (MATAN) Malaysia, Ma'ahad Tahfiz Vokasional Aman Bistari Selangor, Istana Kehakiman Putrajaya, Mahkamah Syariah Wilayah Persekutuan Malaysia, serta Chariyatham Suksa Foundation School Thailand. Kapasitas ini diperkuat oleh kualitas sumber daya manusia internal dengan kepemilikan 19 dosen bergelar Doktor (S3).

 

Dampak nyata dari transformasi manajemen mutu ini berbuah pada pengakuan kelembagaan tingkat nasional. Sepanjang tahun 2026, INISNU memanen berbagai penghargaan prestisius. Pertama, Penghargaan BPJPH Nasional. Pada tanggal 2-4 Februari 2026, INISNU menyabet dua penghargaan dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kemenag RI dalam kategori Pendamping Proses Produk Halal (P3H) terbaik nomor 2 dan 6 di tingkat nasional. Halal Center INISNU tercatat berhasil menerbitkan 7.015 sertifikat halal dan melakukan pendampingan pada lebih dari 10.000 pelaku UMKM, melanjutkan prestasi sebelumnya sebagai 20 LP3H Terbaik dalam Konferensi Internasional Halal H-20.

 

Kedua, LPTNU PBNU Awards. Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menganugerahkan tiga penghargaan sekaligus. Juara II Kategori Dosen dengan Karya Ilmu Agama Berpengaruh Bidang Fikih diraih oleh Dr. Dwanda Julisa Sistiyawan, S.H., M.H.; Juara II Duta PTNU Bidang Keagamaan disabet oleh Anas Rodin (mahasiswa PAI); dan Juara II Kategori Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Bidang Pembangunan Komunitas dimenangkan oleh Pusat Kajian Bahasa, Budaya, dan Gender (PKBBG) INISNU.

 

Ketiga, Top 10 Kampus NU Terbaik di Jawa Tengah. Berdasarkan data resmi Sinta Kemendiktisaintek, INISNU dinobatkan dalam jajaran 10 besar Kampus NU Terbaik di Jawa Tengah dengan raihan Sinta Score 3 Yr sebesar 3.278 dan Sinta Score Overall mencapai 5.918.

 

Keempat, Penghargaan PD-PGMI Indonesia Award 2026. Dalam ajang nasional yang diselenggarakan di UNISMA Malang pada 25-27 Juni 2026, Rektor INISNU, Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., meraih penghargaan prestisius sebagai Juara I Dosen Teladan Sitasi Scopus.

 

Menatap masa depan di tengah disrupsi teknologi dan perubahan sosiologis Gen Z, INISNU Temanggung sedang mengawal agenda makro yang sangat krusial, yaitu proses alih bentuk dan penyatuan institusi dengan Akademi Keperawatan (Akper) Al-Kautsar Temanggung di bawah satu atap pengelolaan. Langkah strategis ini diambil guna memperluas relevansi integrasi antara sains, teknologi modern, dan nilai-nilai luhur Aswaja Annahdliyah.

 

Secara metodologis, Rektor menerangkan bahwa proses transformasi kelembagaan berskala besar ini mengadopsi teori manajemen perubahan dari John P. Kotter dalam karyanya Leading Change (2012). Berdasarkan teori tersebut, keberhasilan restrukturisasi institusi sangat bergantung pada kemampuan kepemimpinan dalam membangun koalisi yang kokoh (guiding coalition) serta mengomunikasikan visi baru secara sistemis ke seluruh lini organisasi.

 

"Diperlukan penyelarasan standar akademik dan integrasi budaya kerja yang solid antara INISNU dan Akper Al-Kautsar. Efikasi kolektif, yakni kesadaran dan keyakinan bersama seluruh pimpinan beserta sivitas akademika, menjadi motor penggerak utama. Penggabungan ini adalah ikhtiar visioner untuk menciptakan entitas pendidikan baru yang jauh lebih kuat, adaptif terhadap kebutuhan Gen Z, serta tetap berdiri kokoh di atas pilar sains dan peradaban Islam," tegas Dr. Hamidulloh Ibda.

 

Guna mengawal keberlanjutan visi besar tersebut, rektorat menetapkan empat komitmen strategis ke depan, yakni memperkuat internasionalisasi kampus secara terstruktur, mengembangkan kurikulum adaptif berbasis teknologi modern yang berorientasi pada Outcome-Based Education (OBE) tanpa menepikan penguatan karakter, meningkatkan secara agresif kualitas riset, publikasi, serta sitasi dosen-mahasiswa, mengukuhkan peran kampus sebagai pusat Pancadharma yang mencakup Pendidikan-Pengajaran, Penelitian, PkM, Penguatan Kaderisasi NU, hingga Pengembangan Peradaban Islam yang inklusif-berkelanjutan.

 

Menutup pidatonya, Rektor menyampaikan untaian apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang menyokong ekosistem akademik INISNU, mulai dari Pemerintah Kabupaten Temanggung dan BAZNAS atas kucuran Program Beasiswa Sarjana Temanggung, Kopertais Wilayah X, LPTNU PBNU, jajaran PWNU dan PCNU, hingga para wali wisudawan yang telah memercayakan pendidikan putra-putri mereka pada kampus yang didirikan oleh ulama kharismatik K.H. Abdul Hadi Shofwan ini.

 

Kepada para wisudawan, Dr. Hamidulloh Ibda menitipkan pesan moral yang mendalam agar gelar akademik yang diraih menjadi instrumen pembawa dampak positif bagi transformasi sosial di masyarakat. Mengutip sebuah adagium Arab, “Su’ul khuluqi yu’di” (سُوءُ الْخُلُقِ يُعْدِي) yang berarti "akhlak yang buruk itu mudah menular", lulusan diingatkan untuk senantiasa selektif dan menjadi episentrum kebaikan di lingkungan baru mereka.

 

Pesan tersebut diperkuat dengan rujukan Hadis Riwayat Al-Bukhari Nomor 5108 mengenai analogi pergaulan, yang mengibaratkan bersahabat dengan orang baik seperti berteman dengan penjual minyak wangi yang selalu mendatangkan keharuman, sementara pergaulan yang buruk diibaratkan seperti mendekati pandai besi yang berisiko membakar baju atau menyisakan bau tak sedap.

 

Melalui perhelatan Wisuda ke-32 ini, INISNU Temanggung tidak hanya melahirkan lulusan berdaya saing, tetapi secara tegas memproklamirkan kesiapannya untuk beranjak dari status kampus lokal menjadi institusi bereputasi global yang adaptif, transformatif, dan berdampak luas.

 

Ketua Dewan Pengurus BPP INISNU Temanggung Drs. H. Nur Makhsun, M.S.I., menyampaikan bahwa perubahan INISNU Temanggung dilakukan sejak awal dilantiknya BPP INISNU dengan melakukan sejumlah percepatan. Dari percepatan jumlah doktor melalui Beasiswa BPP INISNU bagi dosen yang biaya mandiri, percepatan Kerjasama internasional, sarana dan prasarana, dan rencana alih bentuk atau penggabungan dengan AKPER Alkautsar menuju universitas.

 

Wakil Bupati Temanggung drg. Nadia Muna, dan Koordinator Kopertais Wilayah X Jawa Tengah Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag., juga mengapresiasi kinerja INISNU yang turut membangun SDM di Temanggung dan di Jawa Tengah. “Dengan Ketua BPP INISNU yang visioner, dan Rektor yang muda, saya yakin INISNU bisa segera alih bentuk dan berdampak lebih luas lagi,” kata Prof Musa. (*)