Magelang, Tabayuna.com
– LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah resmi membuka Seleksi Nasional Magang ke Jepang hasil kerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan RI dan International Manpower Japan (IM Japan). Pembukaan digelar di Gedung PCNU Kabupaten Magelang, Senin (20/4/2026) pukul 10.00 WIB dan menjadi gelaran perdana yang diselenggarakan di Magelang.


Program magang ini menyasar siswa dan alumni LP Ma’arif NU se-Jawa Tengah serta masyarakat umum bekerjasama dengan LPK-LPK dengan skema pembiayaan terjangkau hingga peluang beasiswa. Tujuannya bukan sekadar memberangkatkan tenaga magang, tetapi membangun SDM unggul yang disiplin, menguasai bahasa asing, beretos kerja tinggi, dan memiliki pengalaman profesional berstandar Jepang. Harapannya, para alumni kelak kembali ke tanah air dengan membawa modal usaha untuk kemandirian finansial di masa depan.


Persiapan Kilat, Animo Tinggi  

Meski hanya dipersiapkan dalam waktu 1 bulan, animo masyarakat cukup tinggi. Tercatat 205 pendaftar masuk ke panitia. Dari jumlah tersebut, 125 peserta hadir mengikuti registrasi ulang dan dinyatakan siap mengikuti tahapan seleksi. Sebagian pendaftar tidak dapat lanjut karena terkendala kelengkapan persyaratan administrasi.


Rangkaian Kegiatan  

Tahapan seleksi diawali pada Minggu (19/4/2026) dengan registrasi peserta pukul 12.00 WIB, dilanjutkan pengarahan dan gladi resik upacara pembukaan hingga pukul 16.30 WIB. 


Puncak pembukaan Seleksi Nasional dilaksanakan Senin (20/4/2026) mulai pukul 10.00 WIB. Acara dihadiri Staff Ahli IM Japan Bp. Agus Pamuji, Staff Bina Latvogan Kemnaker RI Bp. Dindo Sarwono, Plh. Ketua LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah Ibu Dr. Hidayatun, M.Pd., Sekretaris Daerah Kab. Magelang Bapak Grengseng Pamuji mewakili Bupati Magelang, serta Ketua LP Ma’arif PCNU Kabupaten Magelang bapak H Nurdin Syafi’I, S.Ag.M.SI.


Ketua Panitia, Bapak Alif Romdloni, S.H., dalam laporannya menyampaikan bahwa Seleknas Magang Jepang ini menjadi ikhtiar konkret LP Ma’arif NU untuk membuka akses kerja global bagi lulusan madrasah dan sekolah di bawah naungan NU. 


Rangkaian pembukaan diawali dengan pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Yalal Wathon, serta doa bersama. Dilanjutkan laporan ketua panitia, sambutan Ketua LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah dan sambutan Ketua PCNU Kab. Magelang.


Acara dibuka secara resmi oleh Plh. Ketua LP Ma'arif PWNU Jateng, Hidayatun, dalam arahannya beliau memberikan motivasi kepada peserta untuk tetep semangat dalam menjalankan proses seleksi ini, "Kalian harus semangat dan optimis untuk mengikuti seleksi ini, yang penting jangan panik karena kalau kalian panik itu menurunkan 50% kecerdasaan kalian, ini baru 1% dari jutaan peluang kalian untuk menjadi sukses, maka tetep semangat dan optimis insyaallah do'a para Masyayikh akan selalu menyertai", tuturnya.


"Tahun ini (2026) LP Ma'arif NU PWNU Jawa Tengah bermitra dengan Disnaker di 4 kabupaten sudah mendapatkan jadwal seleksi dari Kemnaker RI untuk menyelenggarakan Seleksi Nasional, di awali di Magelang, kemudian bulan Juni dilaksanakan di Banyumas, Juli di Blora dan yang terakhir di Pekalongan, Ma'arif siap mensuport kemnaker untuk mengirimkan tenaga kerja ke Jepang, semoga kolaborasi ini tetep berlanjut dengan baik" imbuhnya.


Momentum simbolis ditandai dengan penyematan nomor peserta oleh perwakilan Kemnaker RI dan Plh Ketua LP Ma'arif PWNU Jateng didampingi Setda Bupati Magelang dan Ketua LP Ma’arif PWNU Jateng, dilanjutkan foto bersama seluruh peserta. Kegiatan ditutup dengan menyanyikan lagu Padamu Negeri.

  

Melalui Seleksi Nasional Magang ke Jepang ini, LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah bersama Kemnaker RI dan IM Japan berharap lahir generasi muda Nahdliyin yang tidak hanya unggul dalam ilmu agama dan akhlak, tetapi juga memiliki daya saing global.  


Program ini diharapkan menjadi jembatan emas bagi santri, siswa, dan alumni LP Ma’arif NU untuk mengakses pengalaman kerja internasional berstandar tinggi, sekaligus membentuk karakter disiplin, tangguh, dan profesional ala Jepang. 


Ke depan, para peserta yang lolos diharapkan kembali ke tanah air dengan membawa 3 bekal utama: kompetensi, pengalaman, dan modal usaha. Dengan bekal tersebut, mereka mampu menjadi motor penggerak kemandirian ekonomi umat, membuka lapangan kerja baru, serta mengharumkan nama Nahdlatul Ulama dan bangsa Indonesia di kancah global.  


LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah berkomitmen menjadikan program ini berkelanjutan dan menjangkau lebih luas seluruh kabupaten/kota di Jawa Tengah, sebagai wujud nyata khidmat NU dalam menyiapkan generasi yang tafaqquh fiddin, berdaya secara ekonomi, dan siap menghadapi tantangan zaman.  


Semarang, Tabayuna.com
- Sekolah Dasar Negeri (SDN) Patemon 02 Gunungpati, Kota Semarang, bekerja sama dengan komunitas relawan Gunungpati Peduli menggelar kegiatan edukasi mitigasi bencana bertajuk Budaya Sadar Bencana (Budarna) pada Senin (20/4/2026). Kegiatan ini juga digelar dalam rangka meramaikan peringatan Hari Kartini 2026.


Ketua Relawan Gunungpati Peduli, Sulistyawan atau biasa dipanggil Mas Lis menyampaikan Budarna adalah pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang risiko bencana dan cara menghadapinya. Ini mencakup pemahaman tentang potensi ancaman bencana, serta kesiapan dan langkah-langkah yang diambil untuk mengurangi dampak bencana jika terjadi. 


"Tujuan Budarna untuk mengurangi risiko dan dampak bencana dengan menciptakan masyarakat yang lebih waspada, terlatih, dan siap menghadapi situasi darurat. Hal ini penting karena bencana alam dan bencana buatan manusia dapat memiliki dampak yang signifikan pada kehidupan manusia dan lingkungan," katanya.


Anak-anak merupakan salah satu kelompok paling berisiko terkena dampak bencana. Hampir 60% kehidupan anak-anak di dalam sekolahan. Kerentanan pada anak-anak terhadap bencana terjadi dikarenakan kurangnya faktor atau keterbatasan pemahaman mereka tentang risiko-risiko di sekeliling mereka yang berakibat tidak adanya kesiapsiagaan mereka dalam menghadapi suatu bencana. Hal ini menunjukkan perlu adanya pengetahuan tentang bencana dan pengurangan risiko bencana sejak dini pada anak untuk dapat memberikan pemahaman dan pengarahan langkah-langkah yang harus dilakukan saat adanya potensi suatu ancaman bencana di sekitar mereka.


Sementara itu, Kepala SDN Patemon 02 Gunungpati Kota Semarang, Dr. Dian Marta Wijayanti, M.Pd., mengatakan bahwa kegiatan ini dilaksanakan sebagai langkah antisipatif mengingat letak geografis Kelurahan Patemon, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, yang berada di jalur rawan secara geologis. Fokus utama dari program ini adalah memberikan pemahaman sejak dini agar siswa memiliki kesiapan mental dan fisik dalam menghadapi potensi ancaman gempa bumi di masa depan.


Dalam sesi edukasi tersebut, para relawan Gunungpati Peduli menggunakan media visual berupa peta geologi wilayah Semarang untuk mempermudah penjelasan kepada siswa. Melalui peta tersebut, ditunjukkan secara detail bahwa wilayah Kelurahan Patemon dilewati oleh jalur patahan dan sesar aktif yang memiliki potensi memicu guncangan gempa. Pendekatan ini bertujuan agar siswa tidak hanya sekadar mendengar instruksi, tetapi benar-benar memahami karakteristik lingkungan tempat mereka tinggal dan bersekolah.


Penyampaian materi dilakukan dengan bahasa yang ramah anak agar informasi mengenai patahan aktif tersebut tidak menimbulkan kecemasan yang berlebihan. Relawan menekankan bahwa gempa bumi adalah fenomena alam yang tidak bisa dihindari, namun dampaknya bisa diminimalisir dengan pengetahuan yang tepat. Siswa diajarkan untuk tetap tenang dan tidak panik, karena ketenangan adalah kunci utama dalam mengambil keputusan penyelamatan diri yang efektif saat situasi darurat terjadi.


Anak-anak diajarkan langkah-langkah konkret sebagai respons pertama saat guncangan mulai terasa. Mereka dilatih untuk segera merunduk, mencari perlindungan di bawah meja yang kuat untuk menghindari runtuhan plafon atau benda keras lainnya, serta tetap bertahan hingga guncangan benar-benar berhenti. Relawan juga mengajarkan sebuah lagu kepada anak-anak. “Kalau ada gempa lindungi kepala. Kalau ada gempa masuk kolong meja. Kalau ada gempa jauhi dinding kaca. Kalau ada gempa lari ke tempat terbuka,” katanya.


Selain berlindung di bawah meja, Tim Gunungpati Peduli juga memberikan panduan mengenai area aman di lingkungan SDN Patemon 02. Siswa diajarkan untuk menjauhi jendela kaca, lemari besar, dan papan tulis yang berisiko roboh. Guru dan siswa secara bersama-sama mengidentifikasi titik-titik di dalam kelas yang dianggap paling aman sebagai zona perlindungan sementara sebelum proses evakuasi keluar gedung dilakukan. Oleh karena itu, setiap sekolah perlu dilengkapi dengan rambu-rambu titik kumpul dan jalur evakuasi.


Edukasi ini juga mencakup simulasi jalur evakuasi menuju titik kumpul di lapangan terbuka sekolah. Anak-anak diajarkan cara keluar ruangan dengan tertib, yaitu dengan melindungi kepala menggunakan tas atau tangan dan tidak saling mendorong. Relawan menjelaskan bahwa saat gempa terjadi di jam pelajaran, lapangan sekolah merupakan tempat paling aman karena jauh dari struktur bangunan yang berpotensi runtuh atau jaringan kabel listrik.


Menariknya, edukasi ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyentuh aspek psikologis. Para siswa diberi pemahaman bahwa menjadi pribadi yang tangguh berarti berani menghadapi situasi sulit dengan pengetahuan. Dengan mengetahui bahwa daerah mereka berada di jalur sesar, siswa justru diharapkan menjadi lebih peduli terhadap lingkungan dan mampu mengingatkan teman serta keluarga di rumah untuk ikut serta melakukan langkah-langkah mitigasi mandiri.


Pihak sekolah mengapresiasi penuh inisiatif dari komunitas Gunungpati Peduli yang telah terjun langsung memberikan pembekalan ini. Sinergi antara sekolah dan relawan lokal dianggap sebagai model kolaborasi yang efektif dalam membangun resiliensi masyarakat di tingkat akar rumput. Pengetahuan mengenai kebencanaan kini tidak lagi dianggap sebagai materi tambahan, melainkan bagian penting dari kecakapan hidup yang harus dimiliki oleh setiap anak di wilayah rawan sesar aktif.


Melalui kegiatan ini, SDN Patemon 02 berharap dapat memutus rantai ketidaktahuan yang sering kali menjadi penyebab utama banyaknya korban saat bencana terjadi. Dengan edukasi berbasis peta dan data geologis yang akurat, siswa tidak lagi hanya menebak-nebak bahaya yang mengintai, tetapi sudah siap dengan strategi penyelamatan diri yang terencana. Hal ini sejalan dengan visi mewujudkan sekolah ramah anak yang juga tangguh dalam menghadapi tantangan alam.


Sebagai penutup kegiatan, seluruh peserta didik berkomitmen untuk terus melatih kesiapsiagaan mereka melalui simulasi rutin. Edukasi dari Gunungpati Peduli ini diharapkan menjadi pemantik bagi sekolah-sekolah lain di wilayah Gunungpati untuk melakukan hal serupa. Dengan literasi bencana yang kuat, warga sekolah SDN Patemon 02 kini lebih siap dan sigap, membuktikan bahwa pemahaman terhadap alam adalah langkah awal menuju keselamatan bersama. (*)


‎Semarang, Tabayuna.com
– Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah meluncurkan program strategis “NU Peduli Pendidikan” sekaligus mengumumkan pembangunan Balai Diklat Pendidikan seluas 2,5 hektar di Karanganyar, Jawa Tengah. 

‎Peluncuran ini berlangsung dalam acara Halalbihalal dan Launching Program NU Peduli Pendidikan PWNU Jawa Tengah pada Kamis (9/4/2026) yang berlangsung khidmat di MG Setos Hotel Semarang dan menjadi momentum penguatan infrastruktur serta kualitas sumber daya manusia (SDM) di lingkungan Nahdlatul Ulama.

‎Acara tersebut dibuka oleh KH Fadlullah Turmudhi. Dalam sambutannya, Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah, KH Abdullah Ghofar Rozin (Gus Rozin), menegaskan bahwa tantangan pendidikan saat ini tidak hanya terkait pembangunan fisik, tetapi juga peningkatan kualitas tenaga pendidik.

‎“PWNU Jateng saat ini menaungi 4.244 satuan pendidikan. Kepedulian yang konkret bukan hanya memperbaiki fasilitas, tetapi juga meningkatkan kapasitas tenaga pendidik sebagai fondasi utama,” ujar Gus Rozin. 

‎Ia menambahkan bahwa pembangunan Balai Diklat ini merupakan hasil sinergi dengan Bank Jateng Syariah dan LAZISNU.

‎Sementara itu, Ketua LP Ma’arif NU PWNU Jateng, Dr. Fakhrudin Karmani, M.S.I, memaparkan data pendidikan Ma’arif untuk tahun ajaran 2025/2026. Tercatat sebanyak 3.577 madrasah terdiri dari MI (2.324), MTs (872), dan MA (381). Selain itu terdapat 664 sekolah umum, meliputi SD (71), SMP (240), SMA (69), dan SMK (288). Total guru mencapai 50.576 orang dengan jumlah murid sebanyak 524.386 siswa.

‎Melalui Ma’arif Education Center Project, LP Ma’arif menetapkan empat agenda utama, yaitu standardisasi kualitas pendidikan, penguatan ideologi Aswaja, adaptasi teknologi, serta profesionalisme berkelanjutan bagi tenaga pendidik.

‎Program ini juga diperkuat melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara PWNU Jawa Tengah dan BPD Jateng Syariah. Selain itu, LAZISNU memperkenalkan sistem Virtual Account dan QRIS guna mendukung digitalisasi infak pendidikan yang lebih transparan dan modern.

‎Menteri Sosial RI, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), turut memberikan arahan dan apresiasi terhadap program tersebut. Ia menekankan bahwa pendidikan merupakan kunci utama dalam memutus rantai kemiskinan.

‎“Pendidikan adalah jalan untuk memutus rantai kemiskinan. Gerakan infak pendidikan Ma’arif menjadi langkah nyata dalam membangun kemandirian,” ujarnya.

‎Ia juga mendorong penguatan konsolidasi serta pemutakhiran data Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) melalui kerja sama antara pemerintah dan organisasi masyarakat seperti Nahdlatul Ulama.

‎Kegiatan ditutup dengan doa yang dipimpin Katib Syuriyah PWNU Jawa Tengah Drs. KH. Mohamad Muzammil. Diharapkan, program ini menjadi awal kebangkitan pendidikan Nahdliyin yang mandiri dan mampu bersaing di tingkat global. (Hasan/Ibda).


‎Semarang, Tabayuna.com
- Bertempat di MG Setos Hotel Semarang, Menteri Sosial Republik Indonesia Drs. KH. Saifullah Yusuf (Gus Ipul), secara resmi melaunching Program NU Pendidikan PWNU Jawa Tengah pada Kamis (9/4/2026). 

‎Hal itu terungkap dalam rangkaian kegiatan Halalbihalal dan Launching Program NU Pendidikan PWNU Jawa Tengah kerjasama antara LP Ma'arif NU PWNU Jawa Tengah, LAZISNU PWNU Jawa Tengah, dan Bank Jateng Syariah. 

‎Dalam arahannya, Menteri Sosial RI Drs. KH. Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menegaskan bahwa pihaknya pertama kali bertatap sapa dengan Pengurus NU Jawa Tengah.  "Untuk pertama kalinya, saya berbicara sebagai Menteri Sosial RI di hadapan pengurus NU Jawa Tengah, " katanya. 

‎Oleh karena itu, pihaknya berharap agar forum tersebut berjalan maksimal. Sebagaimana mandat konstitusional, katanya, Pasal 34 ayat (1) UUD 1945, bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. "Apa yang harus dipenuhi? Ya ada material, spiritual dan sosial. Di pesantren yang dikelola kiai-kiai NU hampir semuanya memberikan itu semua," katanya. 

‎Jika disimpulkan dengan sederhana, lanjut Gus Ipul, dari amanat Pasal 34 itu, kita menyiapkan pemerlu atensi sosial melalui 12-Pas. Ke-12 Pas tersebut terdiri atas fakir miskin, anak-anak rentan (termasuk yatim piatu), difabel/penyandang disabilitas, lansia terlantar, masyarakat berpendapatan rendah, korban bencana (alam/sosial), kelompok afirmatif (kelompok khusus), warga binaan (lapas/rutan), korban kekerasan, korban NAPZA dan HIV/AIDS, masyarakat bermasalah sosial, dan perempuan rentan. 

‎"Di antara isu strategis yang harus diselesaikan NU, yaitu menjaga anak-anak agar tidak putus sekolah, menyejahterakan guru," kata Gus Ipul. 

‎Pihaknya berharap, bahwa LAZISNU harus bisa dipercaya, amanah, harus menampilkan tata kelola modern. "Kita di NU itu cari berkah, nanti lainnya akan mengikuti, ya bisa jadi menteri barang. Kalau cari jabatan, wes to kesel kabeh, " kelakar Gus Ipul. 

‎Usai arahan Mensos, kegiatan dilanjutkan dengan Launching Program NU Peduli Pendidikan PWNU Jawa Tengah dilakukan oleh Mensos RI Drs. KH. Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Katib Syuriyah PWNU Jawa Tengah Drs. KH. Mohamad Muzammil, Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin, M.Ed., Ketua LP Ma'arif NU PWNU Jawa Tengah Dr. Fakhruddin Karmani, M.S.I., Ketua LAZISNU PWNU Jawa Tengah Dr. H. Muh. Mahsun, S.IP., M.Ag.,Kepala Divisi Syariah Bank Jateng Dr. Slamet Sulistiono,  SE., M.M.

‎Usai launching, kegiatan dilanjut MoU PWNU Jawa Tengah dengan Bank Jateng, dan Infak Pembuka lewat QRIS NU Peduli Pendidikan PWNU Jawa Tengah, dan rapat koordinasi pada masing-masing undangan yaitu PWNU Jateng, PCNU se Jateng, LP Ma'arif NU se Jateng, dan LAZISNU se Jateng. (Ibda).