Semarang, Tabayuna.com - SUPER-LOKA hadir sebagai praktik baik yang dikembangkan oleh Dr. Dian Marta Wijayanti, S.Pd., M.Pd.  untuk memudahkan guru melakukan refleksi dan inovasi pembelajaran dengan memanfaatkan Artificial Intelligence (AI). Di SDN Patemon 02 Kota Semarang, SUPER-LOKA dikembangkan sebagai pendekatan supervisi yang tidak hanya berfokus pada pengamatan pembelajaran, tetapi juga memberikan ruang kepada guru untuk mengevaluasi praktik yang telah dilakukan, menemukan tantangan, dan merancang perbaikan pembelajaran secara berkelanjutan.


Selama ini, refleksi pembelajaran terkadang masih dipahami sebagai kegiatan yang dilakukan setelah proses pembelajaran selesai tanpa tindak lanjut yang sistematis. Guru dapat mengetahui bahwa terdapat bagian pembelajaran yang perlu diperbaiki, tetapi tidak selalu mudah menentukan langkah konkret yang harus dilakukan. SUPER-LOKA berupaya menjembatani kebutuhan tersebut dengan menghadirkan proses refleksi yang lebih terarah, dialogis, dan didukung oleh teknologi AI sebagai alat bantu.


Dalam pelaksanaannya, guru diajak melihat kembali proses pembelajaran secara menyeluruh. Guru tidak hanya bertanya apakah tujuan pembelajaran telah tercapai, tetapi juga menganalisis bagaimana peserta didik merespons pembelajaran, strategi apa yang berjalan efektif, bagian mana yang mengalami kendala, serta bagaimana lingkungan sekolah dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar. Proses tersebut membantu guru mengembangkan kebiasaan refleksi yang berangkat dari pengalaman nyata di kelas.


AI kemudian dimanfaatkan sebagai salah satu instrumen pendukung dalam proses refleksi. Guru dapat memasukkan catatan hasil observasi, pengalaman pembelajaran, atau permasalahan yang ditemukan ke dalam sistem AI untuk memperoleh alternatif pertanyaan reflektif dan gagasan pengembangan pembelajaran. AI membantu memperluas sudut pandang guru, tetapi keputusan akhir tetap berada pada guru berdasarkan konteks peserta didik dan pertimbangan profesional.


Kemudahan tersebut membuat proses refleksi menjadi lebih praktis. Guru tidak harus memulai dari halaman kosong ketika ingin mencari alternatif solusi terhadap permasalahan pembelajaran. Dengan memberikan instruksi atau prompt yang tepat, guru dapat meminta AI membantu mengembangkan berbagai kemungkinan strategi pembelajaran, aktivitas peserta didik, pertanyaan pemantik, media pembelajaran, maupun bentuk asesmen yang relevan dengan tujuan pembelajaran.


SUPER-LOKA juga mendorong guru untuk menggunakan AI secara kritis. Setiap informasi atau gagasan yang dihasilkan AI tidak langsung diterapkan begitu saja. Guru perlu memeriksa kesesuaian informasi, mempertimbangkan karakteristik peserta didik, memastikan kesesuaian dengan kurikulum, serta menyesuaikan gagasan dengan kondisi nyata sekolah. Dengan demikian, pemanfaatan AI tetap berada dalam kendali guru sebagai profesional pendidikan.


Kekuatan lain SUPER-LOKA terletak pada integrasi aspek ekologis dalam proses refleksi dan inovasi. Guru didorong untuk memikirkan bagaimana lingkungan sekolah dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar peserta didik. Masalah sampah, penggunaan air, penghijauan, energi, kebersihan lingkungan, hingga pemanfaatan bahan bekas dapat menjadi sumber masalah autentik yang dikembangkan menjadi kegiatan pembelajaran.


Melalui dukungan AI, ide-ide sederhana tersebut dapat dikembangkan menjadi rancangan pembelajaran yang lebih kreatif. Misalnya, guru dapat mengembangkan pembelajaran berbasis proyek tentang pengelolaan sampah, pembelajaran matematika dengan menggunakan data lingkungan sekolah, pembelajaran IPAS melalui pengamatan tanaman, atau Pendidikan Pancasila melalui kegiatan gotong royong menjaga kebersihan lingkungan. Teknologi membantu guru mengeksplorasi kemungkinan, sedangkan konteks lokal menjadi dasar pengembangannya.


SUPER-LOKA juga memberikan ruang bagi guru untuk melakukan inovasi secara bertahap. Inovasi tidak harus selalu berupa penggunaan teknologi yang kompleks atau menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru. Perubahan sederhana dalam strategi pembelajaran, penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar, variasi asesmen, pengembangan media dari bahan bekas, atau penerapan metode pembelajaran yang lebih melibatkan peserta didik dapat menjadi bentuk inovasi apabila memberikan perbaikan terhadap proses dan pengalaman belajar.


Dalam proses tersebut, peran kepala sekolah menjadi sangat penting. Kepala sekolah tidak hanya melakukan supervisi untuk menilai pembelajaran, tetapi memberikan pendampingan agar guru mampu merefleksikan praktiknya. Hasil observasi menjadi bahan dialog profesional antara kepala sekolah dan guru. Bersama-sama mereka mengidentifikasi kekuatan, menemukan area yang perlu dikembangkan, dan menyusun rencana tindak lanjut yang realistis.


SUPER-LOKA selanjutnya dapat menjadi bagian dari budaya belajar bersama di sekolah. Guru yang telah mencoba suatu inovasi dapat berbagi pengalaman kepada rekan sejawat melalui komunitas belajar. Gagasan yang berhasil dapat dikembangkan, sedangkan pengalaman yang belum optimal dapat menjadi bahan diskusi untuk menemukan perbaikan. Dengan cara ini, refleksi tidak berhenti pada individu, tetapi berkembang menjadi budaya kolaborasi di lingkungan sekolah.


Pemanfaatan AI dalam SUPER-LOKA pada akhirnya bukan semata-mata tentang kecanggihan teknologi. Hal yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut membantu guru menghemat waktu, memperluas gagasan, dan memperoleh alternatif dalam mengembangkan pembelajaran. AI menjadi alat bantu yang mendukung guru untuk berpikir lebih reflektif dan kreatif, bukan menggantikan peran guru dalam mengambil keputusan pedagogis.


SUPER-LOKA menegaskan bahwa guru yang reflektif adalah guru yang terus belajar, sementara guru yang inovatif adalah guru yang berani mengubah pengalaman menjadi perbaikan. Dengan memadukan supervisi yang reflektif, kepedulian ekologis, kolaborasi, dan pemanfaatan AI secara bertanggung jawab, SDN Patemon 02 Kota Semarang berupaya membangun pembelajaran yang terus berkembang sesuai kebutuhan peserta didik dan tantangan zaman.


Pada akhirnya, SUPER-LOKA bukan sekadar sebuah program supervisi, melainkan sebuah gerakan untuk menumbuhkan budaya refleksi dan inovasi di sekolah. AI membantu guru menemukan lebih banyak kemungkinan, lingkungan memberikan konteks pembelajaran yang nyata, dan supervisi memberikan ruang untuk berefleksi. Dari proses tersebut diharapkan lahir guru yang semakin adaptif, pembelajaran yang semakin bermakna, serta sekolah yang terus bergerak menjadi lingkungan belajar yang inovatif, ekologis, dan berkelanjutan.


Semarang, Tabayuna.com - Kepala Sekolah SDN Patemon 02 Kota Semarang Dr. Dian Marta Wijayanti, M.Pd., melakukan pendampingan supervisi pembelajaran berbasis ekologis dan Artificial Intelligence (AI) sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pembelajaran dan budaya refleksi guru di sekolah. Pendampingan ini dikembangkan melalui praktik baik SUPER-LOKA (Supervisi Pembelajaran Berbasis Ekologis dengan Optimalisasi Kinerja AI), yang memadukan supervisi akademik, kepedulian terhadap lingkungan, refleksi pembelajaran, kolaborasi guru, serta pemanfaatan teknologi AI secara bijak dan bertanggung jawab.

"Pelaksanaan SUPER-LOKA berangkat dari pemahaman bahwa supervisi pembelajaran tidak semestinya hanya berorientasi pada pemeriksaan administrasi pembelajaran. Supervisi perlu menjadi proses pendampingan yang membantu guru mengidentifikasi kekuatan, menemukan tantangan, melakukan refleksi, dan merancang perbaikan pembelajaran secara berkelanjutan. Kepala sekolah berperan sebagai pendamping dan fasilitator yang menciptakan ruang dialog profesional sehingga guru merasa didukung untuk mengembangkan praktik pembelajaran yang inovatif," katanya, Senin (7/9/2026)

Pendekatan ekologis menjadi salah satu karakter utama dalam pelaksanaan supervisi. Lingkungan sekolah tidak hanya dipandang sebagai tempat berlangsungnya pembelajaran, tetapi juga sebagai sumber belajar yang kaya dan kontekstual. Guru didorong untuk mengintegrasikan potensi lingkungan sekitar, kearifan lokal, pengelolaan sampah, penghematan energi dan air, penghijauan, serta kepedulian terhadap lingkungan ke dalam proses pembelajaran sesuai dengan karakteristik mata pelajaran dan peserta didik.

Dalam tahap praobservasi, kepala sekolah bersama guru melakukan dialog mengenai perencanaan pembelajaran. Guru diberi kesempatan menjelaskan tujuan pembelajaran, karakteristik peserta didik, strategi pembelajaran, pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar, serta teknologi yang akan digunakan. Pada tahap ini, AI dapat dimanfaatkan untuk membantu guru mengembangkan ide, menyusun alternatif aktivitas pembelajaran, membuat pertanyaan pemantik, merancang asesmen, dan melakukan penyempurnaan perangkat pembelajaran dengan tetap mempertimbangkan validitas pedagogis serta konteks nyata peserta didik.

Tahap observasi pembelajaran dilakukan dengan menempatkan proses belajar peserta didik sebagai fokus utama. Kepala sekolah mengamati keterlibatan siswa, interaksi guru dan siswa, penerapan strategi pembelajaran, penggunaan media, pemanfaatan lingkungan, diferensiasi pembelajaran, serta munculnya praktik inovatif di kelas. Penggunaan instrumen supervisi diarahkan untuk memperoleh data yang objektif sehingga hasil observasi dapat menjadi dasar bagi percakapan reflektif, bukan sekadar penilaian terhadap kinerja guru.

Setelah pembelajaran selesai, kepala sekolah melaksanakan tahap pascaobservasi melalui dialog reflektif bersama guru. Guru diajak mengidentifikasi bagian pembelajaran yang telah berjalan efektif, kendala yang muncul, respons peserta didik, serta aspek yang masih perlu diperbaiki. AI dapat digunakan sebagai salah satu alat bantu untuk mengorganisasi catatan refleksi, mengembangkan alternatif solusi, dan memberikan perspektif tambahan terhadap rancangan tindak lanjut, sementara keputusan profesional tetap berada pada guru dan kepala sekolah.

SUPER-LOKA juga mendorong guru untuk melihat hubungan antara kualitas pembelajaran dan budaya sekolah yang peduli terhadap lingkungan. Pembelajaran berbasis proyek, pemecahan masalah, eksperimen sederhana, observasi lingkungan, maupun kegiatan kolaboratif dapat dikembangkan dengan memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai laboratorium belajar. Dengan demikian, pendidikan lingkungan tidak berhenti pada slogan, tetapi hadir dalam pengalaman belajar yang nyata dan dekat dengan kehidupan peserta didik.

Optimalisasi AI dalam supervisi juga diarahkan pada peningkatan kompetensi digital guru. Kepala sekolah mendorong guru untuk mengenal penggunaan prompt yang efektif, memeriksa kembali keluaran AI, membandingkan informasi dengan sumber yang terpercaya, menjaga privasi data peserta didik, serta menggunakan AI secara etis. Prinsip utama yang ditekankan adalah bahwa AI berfungsi sebagai co-pilot dalam proses pengembangan pembelajaran, bukan sebagai pengganti kreativitas, pertimbangan pedagogis, dan tanggung jawab profesional guru.

Hasil pendampingan kemudian menjadi bahan untuk menyusun rencana tindak lanjut. Guru yang telah menunjukkan praktik inovatif didorong untuk berbagi pengalaman melalui komunitas belajar sekolah, sedangkan guru yang masih menghadapi kendala memperoleh pendampingan yang lebih terarah. Bentuk tindak lanjut dapat berupa coaching, diskusi antarguru, berbagi praktik baik, pengembangan perangkat pembelajaran, maupun pendampingan penggunaan AI untuk merancang pembelajaran yang lebih kontekstual dan berdampak.

Dikatkan Dian, pendekatan ini juga memperkuat budaya kolaborasi di SDN Patemon 02 Kota Semarang. Supervisi tidak lagi dipersepsikan sebagai kegiatan yang berlangsung satu arah antara kepala sekolah dan guru, tetapi sebagai proses belajar bersama. Kepala sekolah belajar memahami kebutuhan guru, guru belajar melakukan refleksi terhadap praktiknya, dan komunitas sekolah bersama-sama mencari solusi atas berbagai tantangan pembelajaran yang dihadapi.

Melalui SUPER-LOKA, SDN Patemon 02 berupaya membangun ekosistem pembelajaran yang mengintegrasikan refleksi, inovasi, teknologi, dan kepedulian ekologis. Setiap proses supervisi diarahkan agar menghasilkan perubahan yang dapat terlihat dalam praktik pembelajaran, baik melalui peningkatan kualitas perencanaan, keterlibatan peserta didik, pemanfaatan lingkungan, penggunaan teknologi secara bijak, maupun keberanian guru untuk mencoba pendekatan pembelajaran yang baru.

Pendampingan supervisi pembelajaran berbasis ekologis dan Artificial Intelligence ini menjadi salah satu langkah SDN Patemon 02 Kota Semarang dalam membangun budaya sekolah yang adaptif terhadap perubahan. SUPER-LOKA menegaskan bahwa supervisi bukan sekadar aktivitas untuk melihat apa yang dilakukan guru, tetapi sebuah proses untuk membantu guru menemukan apa yang dapat dikembangkan. Dari refleksi lahir inovasi, dari kolaborasi tumbuh budaya belajar, dan melalui pemanfaatan AI yang bertanggung jawab, pembelajaran dapat terus bergerak menuju pengalaman yang lebih kontekstual, ekologis, manusiawi, dan bermakna bagi peserta didik.


Jakarta, Tabayuna.com
— Dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST), Dr. Bherrio Dwi Saputra, M.Pd., mengikuti kegiatan Training of Trainer (ToT) atau Pelatihan bagi Pelatih Angkatan 40 yang diselenggarakan oleh Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI).

Kegiatan yang berlangsung selama 10 hari kedepan tersebut diikuti oleh 100 peserta dari berbagai daerah se-Nusantara yang terpilih dari 960 pendaftar. Keikutsertaan Bherrio Dwi Saputra menjadi bagian dari upaya pengembangan kompetensi sekaligus kesempatan untuk memperluas wawasan dan pengalaman dalam bidang kepelatihan, kepemimpinan, serta wawasan kebangsaan.

Bagi Bherrio, kesempatan mengikuti ToT di Lemhannas RI merupakan pengalaman yang sangat berharga. Sebagai seorang akademisi dan dosen PGSD, ia memandang peningkatan kapasitas diri sebagai bagian penting dari tanggung jawab profesional dalam memberikan kontribusi terhadap dunia pendidikan.

Selama mengikuti kegiatan, peserta mendapatkan berbagai pengalaman pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan sebagai pelatih. Selain penguatan kompetensi kepelatihan, kegiatan tersebut juga menjadi ruang untuk memperkaya pemahaman mengenai kepemimpinan, wawasan kebangsaan, dan ketahanan nasional.

Menurut Bherrio, berbagai wawasan tersebut memiliki relevansi yang kuat dengan dunia pendidikan. Pendidikan tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan akademik peserta didik, tetapi juga memiliki peran penting dalam membentuk karakter, integritas, tanggung jawab, serta kesadaran sebagai bagian dari masyarakat dan bangsa Indonesia. Ia berharap pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh selama 10 hari mengikuti ToT di Lemhannas RI dapat memberikan manfaat yang lebih luas, khususnya bagi mahasiswa PGSD UST yang dipersiapkan menjadi calon guru sekolah dasar.

Ilmu dan pengalaman yang diperoleh juga diharapkan dapat diimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran, pengembangan akademik, maupun kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Dengan demikian, keikutsertaan dalam program tersebut tidak hanya menjadi pengembangan kapasitas pribadi, tetapi juga dapat memberikan kontribusi bagi institusi dan masyarakat.

Keikutsertaan Dr. Bherrio Dwi Saputra, M.Pd. dalam Training of Trainer Lemhannas RI Angkatan 40 menjadi bagian dari komitmennya untuk terus mengembangkan kompetensi sebagai akademisi. Upaya tersebut diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas pembelajaran sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten, berkarakter, dan memiliki wawasan kebangsaan.

Berkesempatan belajar di Lemhannas RI merupakan momentum untuk terus mengembangkan diri dan memperluas kebermanfaatan ilmu yang diperoleh.

Mengutip Semangat pemikiran Ki Hadjar Dewantara bahwa setiap orang dapat menjadi guru dan setiap tempat dapat menjadi sekolah menjadi inspirasi bahwa proses pendidikan tidak pernah berhenti di ruang kelas. Pengalaman mengikuti Training of Trainer di Lemhannas RI selama 10 hari menjadi ruang belajar yang berharga untuk memperluas wawasan, memperkuat kapasitas diri, dan selanjutnya membagikan manfaat tersebut kepada mahasiswa dan masyarakat. 


SEMARANG, Tabayuna.com
— Penguatan tata kelola layanan bagi peserta didik penyandang disabilitas menjadi fokus penelitian Dr. H. Supriyono, S.Pd.I., M.Pd., Pengawas Madrasah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Semarang sekaligus Ketua Umum Forum Pendidik Madrasah Inklusif (FPMI) Pusat.


Gagasan tersebut berhasil dipertahankan Supriyono dalam Sidang Promosi Doktor Fakultas Agama Islam Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, Senin (24/8/2026), di Kampus I Universitas Wahid Hasyim Semarang.


Dalam sidang tersebut, Supriyono mempertahankan disertasi berjudul “Pengembangan Model Tata Kelola Unit Layanan Disabilitas (ULD) untuk Mendukung Pendidikan Inklusif di Madrasah” di hadapan tujuh orang penguji. Salah satu penguji eksternal adalah Dr. H. Imam Bukhori, Kasubdit Bina Guru MA/MAK, Direktorat GTK Madrasah, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama Republik Indonesia.


Setelah melalui seluruh rangkaian sidang dan dinyatakan lulus, Supriyono resmi menyandang gelar Doktor Pendidikan Agama Islam (PAI) dengan spesifikasi Pendidikan Islam Inklusif. Ia tercatat sebagai Doktor ke-42 Universitas Wahid Hasyim Semarang.


Disertasi yang dikembangkan Supriyono menawarkan model tata kelola Unit Layanan Disabilitas (ULD) sebagai salah satu instrumen strategis untuk memperkuat penyelenggaraan pendidikan inklusif di madrasah. Model tersebut diarahkan untuk memastikan layanan pendidikan bagi peserta didik penyandang disabilitas berlangsung secara terencana, kolaboratif, berkelanjutan, serta berorientasi pada pemenuhan hak dan kebutuhan peserta didik dengan berbasis etik pendidikan Islam.


Momentum akademik tersebut turut dihadiri Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Semarang Ta’yinul Biri Bagus Nugroho bersama Kasi Pendidikan Madrasah Harun Al Rasyid. Hadir pula Kepala Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Semarang M. Taufiqur Rahman, jajaran pengawas madrasah dan PAI, pengurus ULD Kemenag Kabupaten Semarang, pengurus FPMI Kabupaten Semarang, serta sejumlah guru madrasah.


Sebagai atasan sekaligus pimpinan di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Semarang, Ta’yinul Biri Bagus Nugroho turut menyampaikan kesan dan pesan atas perjuangan akademik Supriyono hingga berhasil menyelesaikan pendidikan doktoralnya.


Menurutnya, capaian tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan secara personal dan institusional, tetapi juga diharapkan memberikan kontribusi nyata bagi penguatan pendidikan inklusif di madrasah.


Gelar doktor dengan spesifikasi Pendidikan Islam Inklusif yang diraih Supriyono menjadi bagian dari perjalanan panjang dalam mendorong terwujudnya madrasah yang ramah, inklusif, dan mampu memberikan layanan pendidikan yang setara bagi seluruh peserta didik, termasuk peserta didik penyandang disabilitas.


Selain menjalankan tugas sebagai Pengawas Madrasah Kementerian Agama Kabupaten Semarang, Supriyono juga aktif dalam pengembangan gerakan pendidikan inklusif melalui Forum Pendidik Madrasah Inklusif (FPMI). Sebagai Ketua Umum FPMI Pusat, ia terus mendorong penguatan kapasitas pendidik dan tata kelola madrasah dalam mewujudkan pendidikan inklusif yang berkelanjutan.


Dengan diraihnya gelar doktor tersebut, Supriyono diharapkan semakin memperkuat kontribusi akademik, profesional, dan kelembagaannya dalam pengembangan pendidikan Islam inklusif, khususnya dalam membangun sistem layanan disabilitas yang efektif dan terintegrasi di lingkungan madrasah dengan rahmah, inklusif, kolaboratif dan Istiqamah.


Pendidikan inklusif bukan sekadar membuka akses, tetapi memastikan setiap peserta didik memperoleh layanan, dukungan, dan kesempatan untuk berkembang secara setara.